
SIDOARJO – Dunia aktivisme Indonesia kembali berduka sekaligus meradang. Insiden penyiraman air keras terhadap seorang aktivis di kawasan Jalan Salemba 1, Jakarta, pada Kamis (12/03) lalu, memicu gelombang kecaman dari berbagai daerah. Salah satu pernyataan paling tegas datang dari Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Sidoarjo.
Sekretaris Waka II PMII Cabang Sidoarjo, Mochammad Burhanuddin Robbani, mengutuk keras tindakan tersebut yang ia sebut sebagai bentuk arogansi penguasa yang sangat tidak manusiawi. Menurutnya, serangan fisik ini bukan sekadar kriminalitas biasa, melainkan serangan langsung terhadap fondasi demokrasi.
Upaya Sistematis Membungkam Suara Kritis
Burhanuddin menegaskan bahwa insiden ini merupakan pelanggaran serius terhadap Hak Asasi Manusia (HAM), khususnya kebebasan berpendapat yang dilindungi oleh UUD 1945.
“Penyiraman air keras ini bukan hanya kekerasan fisik, tapi upaya sistematis untuk menekan suara-suara kritis. Ini menciptakan atmosfer ketakutan agar masyarakat takut berpartisipasi dalam demokrasi,” ujar Burhanuddin dalam keterangannya.
Senada dengan hal tersebut, Alfien Ananta turut menyuarakan keprihatinannya. Ia menilai tindakan brutal ini telah mencederai nilai-nilai kemanusiaan yang paling mendasar. Ia juga menyentil kinerja aparat penegak hukum dalam menangani kasus ini.
“Sangat disayangkan jika pihak aparat tidak mampu menangkap para pelaku. Ini adalah ancaman serius terhadap ruang kebebasan sipil di Indonesia,” tegas Alfien.
Tiga Tuntutan Utama PMII Sidoarjo
Sebagai bentuk solidaritas dan tuntutan atas keadilan, PMII Sidoarjo mendesak pemerintah untuk segera melakukan langkah konkret:
- Investigasi Tuntas: Mengusut dan memproses hukum pelaku serta aktor intelektual di balik penyiraman air keras.
- Jaminan Keamanan: Memberikan perlindungan nyata bagi aktivis dan masyarakat sipil dalam menyuarakan aspirasi.
- Perlindungan HAM: Menghormati serta menjaga hak kebebasan berekspresi tanpa bayang-bayang intimidasi.
Seruan Persatuan Masyarakat Sipil
Di akhir pernyataannya, Burhanuddin mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari akademisi hingga aktivis, untuk tidak tinggal diam melihat ketidakadilan ini. Ia memastikan bahwa teror fisik tidak akan pernah bisa membunuh ide dan keberanian.
“Tindakan arogansi tidak akan pernah membungkam suara kami. Kami akan terus bersuara dan berjuang demi kebenaran serta keadilan,” pungkasnya.
