Rumah Penjahit di Denanyar Jombang Nyaris Ambruk, Plafon Terpaksa Digajal Kayu

jatimmetropolis.com

DENANYAR | Jatim Metro Jatim – Kondisi memprihatinkan dialami Lilik Yuliati, seorang perempuan berusia 54 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai penjahit. Rumah yang ditempatinya bersama adik kandung di Perumahan Denanyar Indah Blok T 4, Desa Denanyar, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, kini mengalami kerusakan cukup parah dan dikhawatirkan semakin membahayakan apabila tidak segera mendapatkan perbaikan.

 

Baca juga: Rumah Penjahit di Denanyar Jombang Nyaris Ambruk, Plafon Terpaksa Digajal Kayu

Lilik Yuliati lahir pada 18 Juli 1972. Ia diketahui belum pernah menikah dan tidak memiliki anak. Selama ini, Lilik tinggal bersama adik kandung laki-lakinya yang lahir pada 7 Februari 1978 dan juga belum menikah.

 

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Lilik bekerja sebagai penjahit dari rumah. Penghasilan dari menerima jahitan pakaian tersebut tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, tetapi juga membantu menghidupi adik kandungnya yang tinggal bersamanya.

 

Sementara itu, sang adik terkadang bekerja dan terkadang tidak memiliki pekerjaan. Kondisi tersebut membuat Lilik harus tetap berusaha mendapatkan penghasilan melalui pekerjaan menjahit yang dilakukannya dari rumah.

 

Namun, tempat yang selama ini menjadi rumah sekaligus tempat mencari nafkah tersebut kini berada dalam kondisi yang cukup memprihatinkan.

 

Menurut Lilik, kerusakan rumah tersebut sudah mulai terjadi sejak sekitar tahun 2016. Seiring berjalannya waktu, kondisi kerusakan semakin parah. Terutama pada bagian atas rumah yang mengalami kerusakan pada kayu, genting, hingga plafon.

 

Beberapa bagian plafon bahkan sudah mengalami kerusakan dan ambles. Untuk mencegah bagian tersebut jatuh atau semakin parah, Lilik terpaksa menggunakan kayu sebagai penyangga sementara.

 

Kayu-kayu tersebut digunakan untuk mengganjal sejumlah bagian plafon yang kondisinya sudah tidak kuat. Upaya tersebut dilakukan karena Lilik tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perbaikan rumah secara menyeluruh.

 

Kondisi tersebut semakin menjadi kekhawatiran ketika hujan turun. Air hujan dapat masuk melalui bagian rumah yang mengalami kerusakan sehingga membuat sejumlah bagian rumah menjadi bocor.

 

“Kalau hujan bocor semua,” ujar Lilik.

 

Bagi Lilik, rumah tersebut bukan hanya tempat untuk beristirahat. Rumah itu juga menjadi tempat dirinya bekerja setiap hari sebagai penjahit. Dari tempat sederhana tersebut, ia menerima pekerjaan menjahit pakaian untuk mendapatkan penghasilan dan memenuhi kebutuhan hidup bersama adiknya.

 

Di tengah kondisi rumah yang sudah mengalami kerusakan, Lilik tetap berusaha menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Ia tetap menjahit dari rumah meskipun harus menghadapi rasa khawatir terhadap kondisi bangunan yang semakin lama semakin rapuh.

 

Terlebih, saat ini kondisi cuaca masih cenderung panas. Namun, Lilik mengaku justru semakin khawatir ketika musim hujan tiba. Ia takut bagian rumah yang sudah rusak dan ditahan menggunakan kayu tersebut tidak lagi mampu bertahan.

 

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Kerusakan yang sudah berlangsung sejak sekitar tahun 2016 kini semakin parah. Bagian atas rumah, termasuk plafon dan beberapa struktur penyangga, membutuhkan perhatian dan perbaikan agar tidak semakin membahayakan penghuni rumah.

 

Lilik berharap kondisi rumahnya dapat segera mendapatkan perhatian dan bantuan perbaikan. Ia ingin rumah tersebut kembali menjadi tempat tinggal yang aman dan layak bagi dirinya dan sang adik.

 

“Saya ingin rumah saya diperbaiki, biar layak saya tempati. Kalau hujan bocor semua,” ungkap Lilik penuh harap.

 

Harapan Lilik sebenarnya sederhana. Ia hanya ingin memiliki tempat tinggal yang lebih aman, tidak lagi mengalami kebocoran saat hujan, serta tidak dihantui kekhawatiran akan plafon maupun bagian rumah yang sewaktu-waktu dapat ambles.

 

Selain itu, perbaikan rumah juga sangat berarti bagi keberlangsungan pekerjaannya sebagai penjahit. Sebab, selama ini rumah tersebut menjadi tempat Lilik mencari nafkah sekaligus tempat tinggal bersama adiknya.

 

Kondisi yang dialami Lilik menjadi gambaran perjuangan warga yang tetap berusaha mandiri di tengah keterbatasan. Dengan pekerjaan menjahit yang dilakukannya dari rumah, Lilik berusaha mencukupi kebutuhan hidup dan membantu adiknya.

 

Kini, ia hanya berharap ada pihak yang tergerak untuk membantu memperbaiki rumah tersebut sebelum kerusakan semakin parah, terlebih ketika musim hujan tiba.

 

Lilik berharap rumah yang telah ditempatinya selama bertahun-tahun itu dapat kembali menjadi tempat tinggal yang aman, nyaman, dan layak untuk ditempati bersama adik kandungnya.

 

Editor : Redaksi

Opini
Berita Populer
Berita Terbaru